LIPI Respons Penyemprotan Disinfektan Corona Berlebihan

Jakarta, CNN Indonesia — Peneliti bidang kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Joddy Arya Laksmono menyatakan penyemprotan disinfektan untuk memutus penularan virus corona harus mengikuti standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurutnya, kesalahan komposisi disinfektan berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Penggunaan bahan disinfektan tetap kita mengacu kepada anjuran dari WHO. Ada beberapa bahan kimia yang dapat digunakan sebagai zat aktif disinfektan,” ujar Joddy kepada CNNIndonesia.com, Kamis (2/4).

Joddy menuturkan ada sejumlah bahan aktif untuk disinfektan sebagaimana yang dianjurkan WHO, yakni etanol, sodium hipoklorit, dan H2O2. Terdapat pula sejumlah bahan-bahan aktif disinfektan yang dapat digunakan.

Namun, Joddy mengingatkan semua bahan itu tidak boleh dicampurkan dalam satu wadah. Pencampuran, kata dia, tidak akan meningkatkan daya disinfektan.

“Namun senyawa kimianya akan berubah membentuk senyawa kimia lainnya yang tentunya akan memberikan efek tidak baik pada tubuh,” ujarnya.

Khusus sodium hipoklorit, Joddy menuturkan biasanya terdapat dalam bahan pemutih pakaian. Sesuai dengan anjuran dari WHO, dia berkata konsentrasi sodium hipoklorit yang diperkenankan untuk disinfektan adalah maksimum 1 persen atau pengenceran 1 bagian sodium hipoklorit dengan 100 bagian air.

“Menurut hasil laju uji antimikroba dari senyawa sodium hipoklorit minimum adalah 0,05 persen dengan lamanya kontak adalah 10 detik,” ujar Joddy.

Lebih lanjut, Joddy menjelaskan ada dua jenis penggunaan disinfektan yang perlu diketahui publik. Pertama, dia berkata disinfektan untuk membunuh bakteri atau virus pada permukaan benda, misalnya untuk Alat Pelindung Diri, gagang pintu, kran air, ponsel, toilet, saklar lampu, hingga wastafel.

Bila disinfektan itu disemprotkan ke tubuh manusia berulang kali, dia berkata bisa memiliki risiko medis. Misalnya penyemprotan cairan disinfektan untuk benda digunakan pada bilik disinfektan yang populer saat ini.

Jika hal itu tetap dilakukan, dia meminta kontak antara cairan disinfektan dengan permukaan tubuh terjadi sesingkat mungkin. Setelah itu, dia berkata tubuh yang terkena cairan disinfektan dibilas dengan air mengalir.

Desain bilik disinfektan, lanjut dia, juga harus terbuka dan menggunakan konsep walk through chamber.

Dari penjelasan disinfektan pertama itu, dia menekankan tiga hal penting harus dipahami, yakni pertama konsep walk through chamber; waktu kontak yang singkat antara permukaan tubuh dengan cairan disinfektan dan penggunaan cairan disinfektan yang aman, sesuai takaran, dan tidak ada pencampuran bahan disinfektan satu dengan lainnya.

“Yang kedua adalah disinfektasi untuk alat-alat kesehatan. Ini tentunya mesti melihat regulasi tersendiri penggunaan bahan dan konsentrasi cairan disinfektannya,” ujarnya.

Desain Bilik Disinfektan

Joddy melihat bilik disinfektan yang dibuat masyarakat ataupun perkantoran saat ini kurang tepat karena menggunakan sistem tertutup dan waktu kontak antara permukaan tubuh dan cairan disinfektannya cukup lama.

Dia berkata, hal itu dikhawatirkan membuat sebagian kabut cairan disinfektan terhirup ke dalam sistem pernafasan.

Menurut Joddy, desain bilik disinfektan yang baik adalah terbuka dan menggunakan konsep walk through chamber. Sehingga, dia berkata orang disemprot cairan disinfektan bisa tetap berjalan.

“Bilik disinfektan yang tertutup sebetulnya tidak disarankan apalagi dengan sistem tertutup, khawatir ada cairan disinfektan yang terhirup,” ujar Joddy.

Untuk sistem walk through chamber, Joddy berkata dapat dibuat cukup memanjang dengan memperhitungkan antara waktu kontak cairan disinfektan dengan jumlah langkah. Idealnya, dia menyebut, waktu kontak untuk sistem walk through chamber maksimum 10 detik.

Batasa waktu itu, lanjut dia, berdasarkan hasil uji laju antimikroba yang menyebut sodium hipoklorit dapat mematikan mikroba patogen dalam 10 detik.

“Disarankan memang jangan terlalu sering menggunakan cairan disinfektan karena di tubuh manusia ataupun di permukaan tubuh terdapat mikroba-mikroba ataupun enzim-enzim baik yang sangat dibutuhkan untuk metabolisme tubuh,” ujarnya.

sumber : cnnindonesia