Nyaris Kena Trading Halt, IHSG Ambles Lebih Dari 4%

0
14

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lagi di perdagangan Senin (16/3/2020) setelah pada pekan lalu ambrol lebih dari 10%.

Berdasarkan data Refinitiv, IHSG dibuka stagnan di level 4.907,571, tetapi tidak lama langsung ambles 3,99% ke 4.904,536. IHSG mampu memangkas pelemahan dan mengakhiri perdagangan sesi I di 4.735,61 melemah 3,5%.

Memasuki perdagangan sesi II, kinerja IHSG malah memburuk melemah 4,42% ke 4.690.657 dan mendekati level terendah sejak Februari 2016 di 4639,914 yang dicapai Jumat (13/3/2020) pekan lalu.

Pelemahan lebih dari 4% hari ini hampir saja memicu penghentian sementara selama 30 menit (trading halt) seperti terjadi pada pekan lalu.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan harus mengalami trading halt selama 30 menit sebanyak 2 kali di hari Kamis dan Jumat pekan lalu akibat merosot lebih dari 5%. Sesuai dengan kebijakan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perdagangan bursa saham akan dihentikan selama 30 menit jika IHSG anjlok 5% atau lebih, sebagai langkah antisipasi dalam mengurangi fluktuasi tajam di pasar modal.

Berdasarkan data dari RTI, nilai transaksi pada perdagangan hari ini sebesar Rp 5,45 triliun, dengan investor asing melakukan aksi jual bersih 457,75 miliar di pasar reguler. Sementara di pasar reguler dan negosiasi, investor asing total melakukan beli bersih 297,1 miliar.

Bursa saham global, termasuk IHSG gagal bangkit pada hari ini meski bank sentra AS (Federal Reserve/The Fed) memangkas suku bunga secara agresif dan mengaktifkan kembali program pembelian aset (Quantitative Easing/QE).

Dini hari tadi (Minggu malam waktu AS) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengumumkan memangkas suku bunga acuanya (Federal Funds Rate/FFR) sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 0-0,25%. Suku bunga tersebut menjadi yang terendah sejak tahun 2015.

Selain itu The Fed juga mengaktifkan kembali QE senilai US$ 700 miliar. Bank sentral paling powerful di dunia ini juga memangkas suku bunga pinjaman darurat untuk perbankan sebesar 125 bps menjadi 0,25% dan memperpanjang tenornya menjadi 90 hari.

Pemangkasan suku bunga agresif The Fed dilakukan demi melindungi perekonomian AS dari dampak negatif pandemi virus corona.

“Dampak dari penyebaran virus corona akan membebani aktivitas ekonomi dalam jangka pendek sehingga menimbulkan risiko terhadap prospek ke depan. Dengan perkembangan ini, Komite memutuskan untuk menurunkan target suku bunga. Komite akan mempertahankan target ini sampai ada keyakinan bahwa ekonomi sudah membaik, penciptaan lapangan kerja ke titik maksimum, dan stabilitas harga sesuai dengan target,” sebut keterangan tertulis The Fed.

Pelonggaran moneter yang dilakukan The Fed biasanya membuat bursa saham global menguat, tetapi kali ini bursa berjangka (futures) AS jutru ambrol hingga menyentuh “batas bawah” 5%.

Ambrolnya bursa berjangka AS menunjukkan buruknya sentimen pelaku pasar yang turut mengirim hawa negatif ke bursa Asia, dan Eropa, dan memberikan indikasi bursa saham AS juga akan anjlok ketika perdagangan dibuka nanti.

Bursa utama Asia memerah pada perdagangan hari ini, indeks Nikkei Jepang melemah. 2,46%, Shanghai Composite China dan Kospi Korea selatan merosot lebih dari 3%, sementara Hang Seng Hong Kong lebih dari 4%. Indeks ASX Australia bahkan ambles nyaris 10%.

Bursa saham Eropa lebih buruk lagi. Indeks DAX 30 Jerman merosot 8,11%, CAC 40 Prancis -9,5%, FTSE 100 Inggris dan FTSE MIB Italia melemah lebih dari 7%.

Pelaku pasar masih dibuat cemas oleh pandemi virus corona yang berisiko menekan pertumbuhan ekonomi global, juga ekonomi AS.

Stimulus Fiskal dan Moneter Belum Mampu Angkat BursaStimulus fiskal yang diumumkan oleh pemerintah pada Jumat juga belum mampu mengangkat kinerja bursa pada hari ini. Stimulus tersebut terdiri dari:

  1. Relaksasi Pajak Penghasilan (PPh) 21 melalui skema Ditanggung Pemerintah (DTP) kepada seluruh sektor industri pengolahan. Diberlakukan selama enam bulan untuk karyawan dengan gaji di bawah Rp 200 juta/bulan.
  2. Relaksasi PPh 22 impor untuk 19 sektor di industri pengolahan dan Kemudahan Impor untuk Tujuan Ekspor (KITE). Berlaku selama enam bulan.
  3. Relaksasi PPh 25 dengan bentuk pengurangan pajak korporasi sebesar 30% untuk industri pengolahan. Berlaku selama enam bulan.
  4. Relaksasi restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berupa bebas audit dan tanpa plafon untuk 19 industri tertentu selama enam bulan.

Untuk memberikan stimulus ini, pemerintah memperkirakan defisit anggaran 2020 bisa bertambah menjadi sekitar 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebelumnya, rencana defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 adalah 1,76% PDB.

“Itu Rp 125 triliun sendiri (tambahan defisit). Belanja tidak direm tapi penerimaan turun. Kita akan lihat APBN memberikan dampak suportif kepada ekonomi hampir 0,8% PDB,” kata Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3/2020).

Setelah pengumuman tersebut, IHSG yang sebelumnya ambles lebih dari 5% perlahan bangkit, dan mengahiri perdagangan Jumat dengan menguat 0,24%. 
Tetapi pada hari ini, IHSG kembali terperosok ke zona merah, hal tersebut menunjukkan sentimen pelaku pasar masih belum bagus meski pemerintah sudah menggelontorkan stimulus.

Sebelumya di awal bulan ini Bank Indonesia (BI) memberi stimulus moneter dengan mengeluarkan lima langkah kebijakan. Yang pertama BI meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan atau triple intervention, yang kedua menurunkan GWM valas untuk bank umum, dari 8% menjadi 4% dari DPK. 

Kemudian yang ketiga yang ketiga, BI menurunkan GWM untuk rupiah 50 bps yang berlaku 1 April 2020 selama 9 bulan. GWM tersebut ditujukan untuk mempermudah bank untuk pembiayaan ekspor dan impor.

Yang keempat, BI memperluas cakupan underlying transaksi bagi investor asing dalam lindung nilai. Dan yang kelima, BI menegaskan investor global dapat menggunakan bank kustodi baik global maupun domestik untuk kegiatan investasi di Indonesia. 

Tujuan lima kebijakan tersebut juga sama, agar roda perekonomian terus berputar saat terjadinya pandemi COVID-19. 

Sayangnya baik stimulus fiskal maupun moneter tersebut kurang ampuh meredakan kecemasan pelaku pasar akan pandemi COVID-19, dampaknya sejak awal tahun atau secara year-to-date IHSG ambles lebih dari 25%.

Sumber : cnbcindonesia