Pengamat soal Covid-19: Kemanusiaan No. 1 Ketimbang Ekonomi

0
10

Jakarta, CNBC Indonesia – Serangan virus corona atau Covid-19 yang terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia memang membuat sektor ekonomi terganggu. Namun aspek kemanusiaan harus didahulukan ketimbang ekonomi.

Pengamat Ekonomi, Sutrisno Iwantono, mengatakan dalam situasi seperti ini dituntut adanya kebersamaan, aspek kemanusiaan yaitu penyelamatan kesehatan masyarakat harus didahulukan.

“Buat apa kita punya duit banyak tapi meninggal? Lebih baiklah fokus pencegahan penyebaran virus corona ini diprioritaskan, agar tidak menjadi bencana kemanusiaan,” ujarnya di Jakarta, Minggu (15/3/2020).

Peneliti Senior Institute Developing Enterpreneurship ini mengatakan, pemerintah sudah mengeluarkan sejumlah stimulus ekonomi dalam menghadapi gangguan yang terjadi akibat penyebaran virus corona. Namun, stimulus ini transimsinya tidak langsung terasa ke sektor riil.

“Penentunya adalah implementasi di lapangan dan juga kesediaan dari pemerintah daerah untuk ikut menanggung beban ekonomi, misalnya untuk pajak hotel dan restoran harusnya ditangguhkan dulu, dan itu bebannya di pemerintah daerah jangan disubsidi pemerintah pusat. Yang terima subsidi itu bukan pengusaha tetapi malah pemerintah daerah. Di luar itu yang paling penting adalah aspek kemanusiaan harus didahulukan,” paparnya.

Saat ini, ujar Iwantono, ada keluhan dari masyarakat soal rumah sakit dan tenaga medis yang belum siap dalam menghadapi penyebaran virus corona. Dia mengatakan, banyak orang ingin tes Covid-19, tetapi tidak terlayani dengan baik, banyak rumah sakit yang tidak dapat melakukan.

“Sehingga timbul kecurigaan dan was-was bahwa bahwa peralatan tidak ada dan rumah sakit tidak siap. Ini faktor-faktor yang juga menimbulkan kepanikan. Sementara itu masyarakat mencari masker sulit, hand sanitizer langka, saya mencari infra red thermometer sulit banget kalau pun ada harganya selangit dan harus menunggu pesanan yang memerlukan waktu lama,” katanya.

Mestinya, ujar dia, anggaran pemerintah diprioritaskan untuk pengadaan alat-alat medis guna menahan penyebaran virus corona, serta penyiapan tenaga medis dan seluruh perlengkapannya.

“Kita belum melihat ada kegiatan massal pembersihan dan menyemprotan disinfektan di lingkungan tempat kerja dan tempat umum lainnya, tempat ibadah, di rumah-rumah dan di kampung-kampung sambil melakukan edukasi pada masyarakat. Adanya kepanikan adalah fakta yang tidak dapat dihindarkan, tinggal bagaimana kita memberikan edukasi dan sosialisasi secara massal kepada masyarakat, Insya Allah kepanikan akan jauh berkurang,” paparnya.

Dia meminta pengusaha dan seluruh lapisan masyarakat untuk berkorban sementara guna kepentingan yang lebih besar ke depannya. Karena kemampuan anggaran pemerintah untuk memberika subsidi sangat terbatas.

“Saya baca berita Cristiano Ronaldo pemain klub Liga Italia Juventus saja merelakan jaringan hotel mewahnya dijadikan rumah sakit, dan memberikan pelayanan gratis kepada semua pasen terdampak virus corona. Mestinya orang kaya di Indonesia punya juga kemampuan seperti itu. Alangkah indahnya nanti kalau ada berita Pengusaha A menyumbang masker sekian puluh ribu, menyumbang hand sanitizer sekian puluh ribu, menyumbang peralatan, melakukan kebersihan massal dan lainnya,” katanya.

Iwantono meminta pemerintah tidak meremehkan pandemi virus corona ini. Semua pejabat pemerintah diminta untuk serius menanggapi dan bertindak menghadapi penyebaran virus corona di Indonesia.

“Beberapa daerah sudah meliburkan sekolah dan universitas, dan beberapa universitas sudah “lock down”, dan membatasi bahkan melarang pertemuan-pertemuan yang melibatkan orang banyak. Pasti ada pihak yang dirugikan, tetapi sekali lagi marilah kita legowo dengan hal itu, marilah sedikit berkorban demi kemanusiaan. Penularan virus corona ini adalah lewat lalu lintas manusia, melalui sarana apa saja. Mengurangi lalu lintas manusia adalah hal yang penting,” tutupnya.

Sumber : cnbcindonesia