Konsensus: Corona Mencubit, Neraca Dagang RI Diramal Defisit

0
10

Jakarta, CNBC Indonesia – Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan surplus terbatas pada Februari 2020. Meski ekspor dan impor sama-sama terkontraksi (tumbuh negatif), tetapi neraca perdagangan masih bisa positif.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data perdagangan internasional pada awal pekan depan. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekspor terkontraksi -7,215% year-on-year (YoY), impor terkontraksi -4,855% YoY, dan neraca perdagangan surplus tipis US$ 91 juta.

InstitusiPertumbuhan Ekspor (%YoY)Pertumbuhan Impor (%YoY)Neraca Perdagangan (US$ Juta)
CIMB Niaga1.151.85700
ING-5.6-7.2-864.1
Citi-6.8-4.8-860
BCA-8-6.5130
Moody’s Analytics-1,900
Bank Danamon-9.6-13.3755
BNI Sekuritas-7.63-2.48-324
Bank Permata-4.9-3.0891
Maybank Indonesia-5.98-4.91179
Danareksa Research Institute-15.5-18.5644.8
Standard Chartered-8.42.7-1,058
MEDIAN-7.215-4.85591

Sebenarnya proyeksi kontraksi ekspor-impor pada Februari lebih dalam ketimbang bulan sebelumnya. Kala itu ekspor turun 3,71% YoY, impor turun 4,78%.

Namun saat itu neraca perdagangan mengalami defisit yang lumayan dalam yaitu US$ 864,2 juta. Ini terjadi karena kinerja ekspor-impor pada Februari 2019 begitu mengecewakan.

Saat itu, nilai ekspor adalah US$ 12,56 miliar, terendah kedua sepanjang 2019. Sedangkan nilai ekspor tercatat US$ 12,23 miliar, juga terendah kedua selama 2019.

Dengan basis yang rendah itu, perubahan nominal sedikit saja sudah mengubah persentase secara lebih signifikan. Tidak heran meski kontraksi ekspor-impor Februari lebih dalam dibandingkan Januari tetapi defisit neraca perdagangan secara nominal bisa lebih tipis.

Dampak Corona Mulai Terasa?Kinerja ekspor Indonesia yang belum membaik dipengaruhi oleh harga komoditas. Sepanjang Februari, harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle hampir stagnan, hanya naik tipis 0,15% point-to-point. Namun harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia anjlok 10,94%.

Batu bara dan CPO adalah dua komoditas dengan sumbangsih terbesar bagi ekspor Indonesia. Kalau ekspor dua komoditas itu bermasalah, maka bisa merusak kinerja ekspor secara keseluruhan.

Sementara di sisi impor, sepertinya serangan virus corona mulai terasa. Penyebaran virus corona yang sangat masif membuat industri manufaktur global terganggu karena pabrik belum berproduksi secara optimal. Maklum, sejumlah pabrik menjadi korban kebijakan isolasi (lockdown) di kota tempat mereka beroperasi. Atau karyawan dirumahkan untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Misalnya di China. Kota Wuhan di Provinsi Hubei (yang menjadi ‘pusat gempa’ virus corona) sampai sekarang masih dalam status lockdown. Padahal kota ini adalah domisili beberapa pabrik penting, terutama di sektor otomotif.

“Wuhan dikenal sebagai Motor City karena menjadi lokasi pabrikan besar seperti Honda, Nissan, Peugeot, dan Renault. Untuk Honda sendiri, fasilitas di Hubei menyumbang sekitar 50% dari total produksi di seluruh China pada 2019. Sedangkan Provinsi Hubei berkontribusi sekitar 10% dari total produksi mobil China,” jelas riset World Economic Forum.

Dengan adanya lockdown, pabrik-pabrik otomotif di Wuhan kesulitan memperoleh bahan baku/penolong karena pengiriman barang sulit masuk ke dalam kota. Belum lagi masih banyak pekerja yang diliburkan.

Perkembangan ini membuat produksi mobil China anjlok. Pada Februari, produksi mobil Negeri Panda tercatat 28,5 juta unit atau anjlok 79,8% YoY.

Ini baru satu contoh kasus. Sayangnya kejadian serupa dialami oleh sektor industri lain, kota lain, dan negara lain. Akibatnya, pengiriman produk ke berbagai negara turun termasuk ke Indonesia.

“Dalam jangka pendek, dampak (virus corona) terhadap perekonomian global dan rantai pasok tidak bisa dihindari. Pertumbuhan ekonomi global akan menghadapi tekanan,” kata Li Xingqian, Direktur di Kementerian Perdagangan China, seperti diberitakan oleh Reuters.

Sumber : cnbcindonesia